Langsung ke konten utama

Laknat Jahat Sang Bidadari Surga


 

"Utangku tinggal berapa?" seranya melambungkan pikiranku berharap mudah-mudahan ada rezekinya buat dilunasi semua. 

Dengan semua rasa tidak nyaman ini? aku tidak mau terikat hutang yang akan mempengaruhi keputusanku nanti, secara aku seorang manusia yang mudah dikonsolidasi oleh sedikit air mata atau sembulan buah dada.

Sang bidadari terdiam seolah mencoba mengumpulkan kata-demi kata untuk merangkai sebuah quote yang indah menggambarkan indahnya pencapaian dirinya sesuai dengan pencitraan yang sedang dibangun sebagai seorang dewi dari surga


Bismillah, Semuanya apa yg pernah aku keluar kan untuk mu

Akan aku iklaskan semuanya lunas.. 

Aku cuman pingin km tahu ingat,smuanya yg pernah aku kluarkan untuk mu suami ku adalah bentuk kasih sayang aku sama km sebagai orang yg pernah ada di hidup mu..

Mulai hr ini tidak ada utang piutang di antara kita. Aku mengikhlaskan smuanya

Dan bila ada sikap perbuatan aku yg salah aku mohon maaf lahir batin, sesungguhnya tidak ada niat ku untuk menyakiti mu lahir dan batin. 

Cukup do'akan aku sehat lahir batin, bisa menjadi lebih baik, untuk anak-anak ku, dan orang2

 yg tulus mencintai ku

Aamiin allahumma aamiin


Untaian kata indah tersebut entah mengapa terasa meresahkan bagiku, seorang pendosa yang sudah berdarah-darah oleh cambukan fitnah dan sumpah serapah serta menjadi tumpuan dosa dan kesalahan mengingat issue tentang gender dan tanggung jawabnya.

Semoga saat aku sampaikan bahwa pembayaran project akan segera dilakukan segera dapat membuat dia lebih lega dan percaya pada si pendosa ini, pendosa yang memimpikan bidadari surga hahahaha

"Mungkin dalam waktu dekat ini pembayaran project tahap kedua akan segera dilakukan. Semoga lancar ya..." ungkapku dengan nada sumringah, bangga dapat memberi, bangga dapat membuktikan, bangga dapat menghasilkan.

"Emang ada berapa tahap?" he? sebentar... sebuah ungkapan pertanyaan diluar ekspektasi. Tidak, ini sebuah ungkapan yang tidak sopan bak bertanya gaji antar sesama karyawan.

Yaa setidaknya itu yang terfikir dikepalaku sehingga aku menjawab sama seperti menjawab semua karyawan busuk rekan kerja yang suka-nya tanya2 gaji...

"Ngapain kau tanya-tanya tahap penbayaran?" gak ada urusannya mau dikaitkan dari sisi apapun... tapi yaa begitulah awal mula sang bidadari yang tersulut emosi melaknatku

Ini lah aku sang pendosa yang sekelas Firaun yang sombong, nampaknya aku layak ditenggelamkan di lautan merah... aamiin semoga laknatmu dikabulkan Allah, terima kasih sudah membuka dirimu siapa sebenarnya bidadari

Postingan populer dari blog ini

Kukira Kau Rumah, Ternyata Portal Komplek

  Putus nyambung? itu mah biasa, gak ada apa-apanya. Talak - rujuk - talak lagi - rujuk lagi - batal rujuk, kebodohan apa lagi yang aku buat? namun sepertinya fulanah belum puas jika tidak setara dalam hak dan keistimewaan gender.

Aku Bicara Dari Hati

Jangan terjebak dengan istilah yang mangaburkan makna dalam sebuah perhitungan yang tidak ada satuan untuk mengukurnya. Karena anomali dari situasi tersebut akan membuat sebuah plot twist yang sangat membagongkan.